Minggu yang
gelap
Ketika
itu, aku berdua bersama seorang temanku Novia namanya, sedang mengikuti
kegiatan diluar kampus, hari itu sabtu malam aku dan temanku mengikuti kegiatan
Teater sampai dengan selesai, tak terasa waktu semakin larut, kami pun harus pulang,
namun waktu menunjukan pukul 20.00 dimana kita adalah dua orang anak perempuan
yang hendak pulang namun, tak tau harus kemana karena jarak rumah kita dan
kampus rasanya tidak memungkinkan untuk
pulang ke rumah karena perjalanan kita saja bisa sampai memakan waktu hampir 2
jam lamanya malah mungkin bisa lebih. Setelah
jalan-jalan sebentar sambil berpikir mau kemana baru tersadar kita punya teman
yang punya kos-kosan, Ayu namanya, tapi malam itu Ayu sedang pulang ke rumahnya
yang di Bogor, hmm Semakin bingunglah kita tapi, satu-satunya jalan yaa, hanya
nginep di tempat Ayu setelah terdiam sebentar, “ya ampun!! Kenapa tidak mencoba
sms untuk minta kunci sama Ayu”. Kataku sambil tepok jidat. Kita pun sedikit
mendapat pencerahan. Oke! Akhirnya kita putuskan untuk tidak pulang dan kita
menumpang tidur di tempat salah seorang teman kita itu, kos-kosan belakang
kampus tempat kita menginap dan beristirahat. Untunglah ada tempat untuk kita
bermalam bayangkan saja jika kita di jalanan, huhh…” tidak tau harus bagaimana?”
Malam
semakin larut akhirnya kita pun terlelap semalaman setelah hilang kekhawatiran
kita akan tidur dimana. Pagi pun datang disambut dengan cuaca alam yang tidak
bersahabat masalah semalam sudah lewat tapi sepertinya masih terbebani dengan
hari ini. iyahh... Minggu yang gelap! Kita pun bergegas untuk pulang “mudah-mudahan
tidak kena hujan”, kataku sambil membereskan tempat tidur, namun sayang sekali benar saja keluar dari
kos-kosan langitnya gelap, awannya mendung tapi kita tetap melanjutkan perjalanan
karena kita harus pulang, dengan menggunakan angkutan umun sesuai kantong
mahasiswa kita berdua naik angkot, masih didalam angkot aku pun memandangi
cuaca” hmm... Minggu yang gelap”, seperti tak bersahabat
lalu beberapa menit dalam
perjalanan hujan pun turun mulai membasahi jalanan dan kaca mobil angkot yang
kita tumpangi, hujanpun makin deras khawatir pun datang lagi, “mau turun
dimana?”. Kataku , cemas. Tidak mungkin kita di dalam angkot saja sedangkan
arah pulang harus berganti angkutan lain.
Turun
dari angkot dengan awan masih dengan hujannya, kita masih harus menyebrang. Dan
di sebrang sana angkutan kita
selanjutnya sudah menungggu, kita pun lari di tengah perempatan jalan
yang lalu lalang kendaraan. Lalu menaiki
angkot selanjutnya, dengan sedikit basah kita sudah berada dalam angkot
selanjutnya namun temanku harus turun terlebih dahulu karena rumah kita beda
arah dan kitapun berpisah di persimpangan jalan. Hanya tinggal aku sendiri
masih beada dalam angkot bersama penumpang lainnya akuu hanya bisa menikmati
perjalanan ini, dimana sebenarnya ini kali pertamaku dalam perjalanan, hujan
deras, di dalam angkutan umum sendirian pula “ya ampun!! Semoga selamat sampai
tujuan”. Do’aku dalam hati.
Karena
perjalananku masih cukup panjang untuk bisa sampai ke rumah dan harus berganti
angkot satu kali lagi setelah turun dari angkot yang sedang aku tumpangi, aku
mencoba menikmati saja perjalananku seorang diri ini, padahal dengan perasaan
yang harap-harap cemas karena hujannya semakin deras petir pun mulai menyambar
menggelegar. Hmm andai saja aku sedang di rumah mungkin sudah tertidur tanpa
tahu ada hujan dan petir. Dari dalam angkot aku melihat orang-orang yang naik
motor kehujanan, basah-basah, kedinginan, setidaknnya aku masih lebih beruntung
dari mereka karena tidak harus kehujanan. Hujan
sudah sedikit agak reda dan pemberentian selanjutnya pun sudah sampai,
waktunya aku berganti angkot tapi cukup jauh dari jalanan tempat aku turun,
lagi-lagi harus lari dan basah-basahan. huhh… ketika aku naik sudah ada ibu-ibu
didalam dengan anaknya yang tertidur “kasihan hujan-hujan seperti ini membawa
anak kecil” angkot yang aku tumpangipun berangkat. Baru beberapa menit dari
tempat pemberentian angkot itu hujannya malah makin menjadi, tiba-tiba deras
lagi dibarengi dengan petir, astaga!! Perjalananku terasa sangat jauh. Rasanya
sudah sangat lelah sambil melihat sekitarku orang-orang yang juga naik angkot
bersamaku ada yang tertidur, ada juga yang asik maen handphone dan seperti
biasa kalau didalam angkot bersama ibu-ibu yaa pasti rumpi,hihii “padahal aku
juga sama kalau gak sendiri pasti sambil ngobrol”. Karena hujannya yang deras dan jalananpun
tergenang air jadi cipratan air hujan sampai kedalam angkot, “hmm.. namanya juga
hujan, air pasti basah” kataku. Karena ada ibu-ibu bawel gara-gara kesiram air
hujan. Jalanan tidak begitu ramai, cuaca masih cukup buruk untuk kitay ang
berada di luar rumah, setelah cukup lama berada di angkot, sendirian dan
sesekali hanya melihat handphone tak ada sms, tak ada bbm, seperti tak ada yang
mengkhawatirkan. Akhirnya aku pun sampai di gang depan rumahku, namun masih
cukup jauh untuk sampai di depan pintu rumah, hujannya masih deras tapi tidak
mungkin aku meminta supir angkotnya untuk belok dan masuk ke gang dan
mengantarkanku sampai depan pintu rumah, bisa-bisa di demo penumpang lain
hehe..
Turun
dari angkot lari lagi? Kali ini tidak harus menyebrang tapi takut jatuh bahaya,
aku pun berjalan biasa percikan genangan air dan tetesan air hujan pun mulai
membasahiku dan sepertinya sudah lama
aku tidak main hujan-hujanan, yasudahlah aku hujanan saja sekalian pulang ke
rumah , sambil hujan-hujanan sedikit tersirat, “andai saja aku punya kekasih
mungkin tidak bermain hujan sendiri tapi berdua, hmm” lagi-lagi dalam
lamunanku. Memang gelap bukan cuma hari ini tapi juga hati ini.
Thank’s
-Mia pratiwi-
pamulang, 2o April 2013