12 Apr 2013

Paragraf Deskripsi Ekspositori




Di Depan Auditorium UNPAM
“Mia Pratiwi”

Begitu jam kuliah selesai hampir semua mahasiswa keluar dari pintu yang sama, berbondong-bondong menuju pintu keluar. Tidak hanya ketika jam kuliah selesai tetapi saat pagi ketika baru datang pun kami melewatinya yaa… Di depan auditorium hampir semua mahasiswa dan dosen pun melewatinya mungkin bisa dibilang itu pintu utama kampus UNPAM. Dari berbagai fakultas, jurusan, mahasiswa ataupun mahasiswi berkumpul di sana dengan keadaan hanya duduk-duduk di lantai sambil ngopi, ngobrol, bercanda, dan mengerjakan tugas, ada pula yang duduk di pilar yang persis menghadap pintu masuk hanya untuk menggoda mahasiswa  lain yang sedang lewat. Kalau sudah berkumpul seperti itu kampus sudah seperti tempat tongkrongan, asap rokok, gelas-gelas kopi, bungkusan-bungkusan bekas makanan dan camilan lainya semua ada di sana. Waktu pulang pun sudah tiba, saya bersama teman-teman pun tidak mau kalah sambil mencari posisi yang nyaman untuk sekedar duduk dan mengobrol atau cari tempat untuk online dengan menggunakan fasilitas wifi gratisan.
Bentuknya bukan ruangan hanya saja bisa untuk meneduh dari hujan dan panas. Mungkin bisa dibilang tempat favorit juga, karena kalau sudah jam pulang, bukannya pulang tapi, di depan pintu keluar itu di penuhi mahasiswa-mahasiswa berebutan ambil tempat, siap duduk dan mengambil posisi sebenarnya gak jelas, yaa.. kalau hujan, sambil menunggu reda, kalau panas sambil menunggu matahari sedikit redup dengan suasana yang sedikit gaduh, suara berisik entah itu suara obrolan mereka ataupun musik dari handphone mereka sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang, keluar masuk kampus bergantian ada yang datang dan pergi.
Ketika saya berada di sana dari luar di balik kaca-kaca besar di samping pintu masuk kita bisa melihat orang-orang sedang mengantre lift atau beramai-ramai menaiki tangga, dari tempat yang saya bersama teman-teman tempati bisa melihat semua keadaan, dari depan ada pilar yang menghadap pintu masuk kalau kita duduk atau berdiri di sana kita seperti di atas balkon cukup tinggi untuk menengok ke bawah, di samping kanan dan kiri terdapat jalanan menurun untuk sampai di basement bawah dan terdapat tong sampah juga ada sedikit tanaman yang menghiasi pilar depan itu, di atas langit-langit pun terdapat beberapa lampu untuk penerangan di malam hari walaupun tempatnya sedikit terbuka hanya ada langit-langit dan tiang penyanggah dari depan. Dari situ juga kita bisa melihat mewahnya gedung kampus, yang terdiri dari enam lantai dan ada juga gedung pascasarjana yang di lengkapi dengan perpustakaan dan di sampingnya juga terdapat motor-motor mahasiswa yang terparkit rapi di bawah pohon ceri dan di antara pagar pembatas kampus.
Hari mulai sore, sekelompok demi sekelompok mahasiswa pun meninggalkan tempat itu, petugas kebersihan (OB) pun mulai membersihkan tempat bekas kami duduki, sambil duduk dan mengobrol tidak terasa OB pun mengusir dengan halus, dengan cara menyapu tempat yang masih kita tempati, ketika itu saya masih asik duduk lalu digandeng dan dibangunkan dari tempat duduk, kita pun bergegas pergi dan pulang ke rumah masing-masing. Tidak siang tidak juga malam di depan audit selalu jadi tempat berkumpul mahasiswa sebelum ataupun sesudah jam kuliah, ya.. bisa dibilang dari pagi sampai malam di depan auditorium tempat berkumpulnya sebagian amahasiswa.

pulpenamiami @moment

Tentang Sutan Takdir Alisyahbana



Sutan Takdir Alisyahbana dia di lahirkan di natal Sumatra utara pada tanggal 11 febuari 1908 . Dia adalah seorang guru besar Bahasa Indonesia.
Sutan Takdir Alisyahbana Menamatkan HKS Di Bandung Pada Tahun 1928 Dan Langsung Mengajar Dengan Menjadi Guru HKS Di Palembang Dari Tahun 1928 Sampai Dengan Tahun 1929, Sutan Takdir Alisyahbana Kemudian Mengambil Gelar Masternya Pada Tahun 1942 Dan Menerima Gelar Dr. Honoris Causa Dari Universitas Indonesia Pada Tahun 1979 Dan Dari Universiti Sains [ Penang, Malaysia ] Pada Tahun 1987. Menjadi Redaktur Majalah Pun Merupakan Hal Yang Pernah Dilakoni Sutan Takdir Alisyahbana, Yaitu Menjadi Redaktur Panji Pustaka Dan Balai Pustaka Pada Kurun Waktu Antara Tahun 1930 Hingga Tahun 1933. Kepeduliannya Terhadap Perkembangan Sastra Di Indonesia Amatlah Besar, Mungkinlah Hal Ini Juga yang Melatar Belakangi Sutan Takdir Alisyahbana Untuk Mendirikan Dan Memimpin Sendiri Majalah Pujangga Baru Dari Tahun 1933 Sampai Dengan Tahun 1942 Dan Dilanjutkan Lagi Pada Tahun 1948 Sampai Dengan Tahun 1953 Setelah Tidak Lagi Menjadi Dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, Dan Kebudayaan Di Universitas Indonesia Yang Dijalaninya Antara Tahun 1946 Sampai Dengan tahun 1948.
Catatan Panjang Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Mengajar Sastra Dan Bahasa Yang Juga Pernah Menjadi Pembina Bahasa Indonesia Dari Tahun 1947 Hingga 1952 Masih Ditambah Lagi Dengan Menjadi Guru Besar Tata Bahasa Indonesia Di Universitas Andalas, Padang Dari Tahun 1956 Sampai Dengan Tahun 1958, Dan Guru Besar Sekaligus Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur Sejak Tahun 1963 Hingga Tahun 1968. Sutan Takdir Alisyahbana Juga Pernah Menjadi Rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Akademi Jakarta [ 1970-1994 ], Dan Pemimpin Umum Majalah Ilmu Dan Budaya [ 1979-1994 ], Dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali Sampai Dengan Menutup Usianya Pada Tahun 1994, Tepatnya 17 Juli 1994.


Karir Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Politik Dan Berorganisasi Pun Tidak Dapat Dikatakan Sedikit, Menjadi Anggota Parlemen Dari Periode 1945 Sampai Tahun 1949 Dari Partai Sosialis Indonesia, Anggota Komite Nasional Indonesia, Menjadi Anggota Konstituante Sejak 1950 Sampai Dengan Tahun 1960 Juga Pernah Dijabat Oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
 Selain Itu, Sutan Takdir Alisyahbana Pernah Juga Menjadi Anggota Societe De Linguitique De Paris Sejak Tahun 1951, Anggota Commite Of Directors Of The International Federation Of Philosophical Sociaties [ 1954 - 1959 ], Anggota Board Of Directors Of The Study Mankind, AS Sejak Tahun 1968, Anggota World Futures Studies Federation, Roma Sejak Tahun 1974, Dan Anggota Kehormatan Koninklijk Institute Voor Taal, Land En Volkenkunde, Belanda Sejak Tahun 1976.
Kumpulan Karya Sutan Takdir Alisyahbana 
 * Tak Putus Dirundung Malang [ Novel Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1929 ]
 * Dian Tak Kunjung Padam [ Novel Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1932 ]
 * Tebaran Mega [ Kumpulan Sajak Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1935 ]
 * Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1936 ]
 * Layar Terkembang [ Novel Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1936 ]
 * Anak Perawan Di Sarang Penyamun [ Novel Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1940 ]
 * Puisi Lama [ Bunga Rampai Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1941 ]
 * Puisi Baru [ Bunga Rampai Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1946 ]
 * Pelangi [ Bunga Rampai Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1946 ]
 * Pembimbing Ke Filsafat [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1946 ]
 * Dari Perjuangan Dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1957 ]
 * The Indonesian Language And Literature [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1962]
* Revolusi Masyarakat Dan Kebudayaan Di Indonesia [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1966 ]
 * Kebangkitan Puisi Baru Indonesia [ Kumpulan Esai Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1969]
 * Grotta Azzura [ Novel Tiga Jilid Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1970 & 1971 ]
 * Values As Integrating Vorces In Personality, Society And Culture [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1974 ]
 * The Failure Of Modern Linguistics [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1976 ]
 * Perjuangan Dan Tanggung Jawab Dalam Kesusastraan [ Kumpulan Esai Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1977 ]
 * Dari Perjuangan Dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia Dan Bahasa Malaysia Sebagai Bahasa Modern [ Kumpulan Esai Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1977 ]
 * Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat Dari Segi Nilai - Nilai [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1977 ]
 * Lagu Pemacu Ombak [ Kumpulan Sajak Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1978 ]
 * Amir Hamzah Penyair Besar Antara Dua Zaman Dan Uraian Nyanyian Sunyi [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1978 ]
 * Kalah Dan Menang [ Novel Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1978 ]
 * Menuju Seni Lukis Lebih Berisi Dan Bertanggung Jawab [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1982 ]
 * Kelakuan Manusia Di Tengah - Tengah Alam Semesta [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1982 ]
 * Sociocultural Creativity In The Converging And Restructuring Process Of The Emerging World [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1983 ]
 * Kebangkitan: Suatu Drama Mitos Tentang Bangkitnya Dunia Baru [ Drama Bersajak Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1984 ]
 * Perempuan Di Persimpangan Zaman [ Kumpulan Sajak Karya Sutan Takdir Alisyahbana, 1985 ]
 * Seni Dan Sastra Di Tengah - Tengah Pergolakan Masyarakat Dan Kebudayaan [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1985 ]
* Sajak - Sajak Dan Renungan [ Karya Sutan Takdir Alisyahbana Di Tahun 1987 ] 

Selain Sebagai Guru Besar Tata Bahasa Indonesia, Sutan Takdir Alisyahbana Adalah Juga Seorang Editor. Sutan Takdir Alisyahbana Sempat Menjadi Editor Dari Beberapa Buku : 
* Kreativitas [ Kumpulan Esai, 1984 ]
 * Dasar-Dasar Kritis Semesta Dan Tanggung Jawab Kita [ Kumpulan Esai, 1984 ]





 Seperti Halnya Kebanyakan Tokoh Sastra Yang Sejaman Dengan Sutan Takdir Alisyahbana, Bakat Dan Kecintaan Mereka Terhadap Bahasa Juga Membuat Mereka Menterjemahkan Beberapa Buku Berbahasa Asing Kedalam Bahasa Indonesia, Beberapa Diantaranya Adalah : 
 * Nelayan Di Laut Utara [ Karya Pierre Loti, 1944 ]
 * Nikudan Korban Manusia [ Karya Tadayoshi Sakurai; Terjemahan Bersama Soebadio Sastrosatomo, 1944 ] 
 Adalah Tidak Mengherankan Jika Cerita Dan Riwayat Sutan Takdir Alisyahbana Kemudian Dibukukan. Sebagai Tokoh Yang Memiliki Banyak Kharisma Dan Banyak Dibutuhkan Referensi Sejarahnya. Buku Yang Menulis Tentang Sutan Takdir Alisyahbana :

 * S. Takdir Alisjahbana & Perjuangan Kebudayaan Indonesia 1908 - 1994 [ Oleh Muhammmad Fauzi, 1999 ]
 * Sang Pujangga, 70 Tahun Polemik Kebudayaan, Menyongsong Satu Abad S. Takdir Alisjahbana [ Oleh S. Abdul Karim Mashad, 2006 ] 

9 Apr 2013

puisi aku



AKU
Karya : Mia Pratiwi
Aku memang bukan yang terbaik
Dan aku tidaklah sempurna
Tapi aku juga manusia
Yang mempunyai cita-cita

Hidupku tak lain seperti impian
Hanya bayangan di dalam kenyataan
Aku hanyalah seseorang
Yang mempunyai secercah harapan

Harapanku terhadap kehidupan
Aku ingnin hidup dalalm kebahagiaan
Dan mati dalam ketenangan

Tentang Budaya



Perubahan budaya dan arus globalisasi mengakibatkan beberapa budaya tersingkirkan

Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya.
Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus tertindas proses modernisasi. Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional wayang orang Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata Jakarta kini tampak sepi seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, menurut saya. Contoh lainnya adalah kesenian Ludruk yang sampai pada tahun 1980-an masih berjaya di Jawa Timur sekarang ini tengah mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi. Bisa jadi fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di Indonesia. Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi.
Di sisi lain, ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi. Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional “Ketoprak” yang dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat. Kenyataan di atas menunjukkan kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan dalam bentuk siaran televisi, bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk pementasan atau penyajian, ketoprak termasuk kesenian tradisional yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain ketoprak masih ada kesenian lain yang tetap bertahan dan mampu beradaptasi dengan teknologi mutakhir yaitu wayang kulit. Beberapa dalang wayang kulit terkenal seperti Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto tetap diminati masyarakat, baik itu kaset rekaman pementasannya, maupun pertunjukan secara langsung. Keberanian stasiun televisi Indosiar yang sejak beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit setiap malam minggu cukup sebagai bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap salah satu khasanah kebudayaan nasional kita. Bahkan Museum Nasional pun tetap mempertahankan eksistensi dari kesenian tradisonal seperti wayang kulit dengan mengadakan pagelaran wayang kulit tiap beberapa bulan sekali dan pagelaran musik gamelan tiap satu minggu atau satu bulan sekali yang diadakan di aula Kertarajasa, Museum Nasional.

Macam - macam Majas



1) Majas Metafora adalah Gabungan dua hal yang berbeda yang dapat membentuk suatu pengertian baru. Contoh : Raja siang, kambing hitam
2) Majas Alegori adalah Majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan yang utuh. Contoh : Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi
3) Majas Personifikasi adalah Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat – sifat manusia kepada benda, sehingga benda mati seolah-olah hidup. Contoh : Awan menari – nari di angkasa, baru saja berjalan 8 km mobilnya sudah batuk – batuk
4) Majas Perumpamaan ( Majas Asosiasi ) adalah Suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh : Bagaikan harimau pulang kelaparan, seperti menyulam di kain yang lapuk
5) Majas Antilesis adalah Gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan. Contoh : Air susu dibalas air tuba
6) Majas Hiperbola adalah Suatu gaya bahasa yang bersifat melebih – lebihkan. Contoh : Ibu terkejut setengah mati, ketika mendengar anaknya kecelakaan
7) Majas Ironi adalah Gaya bahasa yang bersifat menyindir dengan halus. Contoh : Bagus sekali tulisanmu, sampai – sampai tidak bisa dibaca
8 ) Majas Litotes adalah Majas yang digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan tujuan untuk merendahkan hati. Contoh : Mampirlah ke gubuk saya ( Padahal rumahnya besar dan mewah )
9) Majas Sinisme adalah Majas yang menyatakan sindiran secara langsung. Contoh : Perilakumu membuatku kesal
10) Majas Oksimoron adalah Majas yang antarbagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan. Contoh : Cinta membuatnya bahagia, tetapi juga membuatnya menangis
11) Majas Metonimia adalah Majas yang memakai merek suatu barang. Contoh : Kami ke rumah nenek naik kijang
12) Majas Alusio adalah Majas yang mepergunakan peribahasa / kata – kata yang artinya diketahui umum. Contoh : Upacara ini mengingatkan aku pada proklamasi kemerdekaan tahun 1945
13) Majas Eufemisme adalah Majas yang menggunakan kata – kata / ungkapan halus / sopan. Contoh : Para tunakarya itu perlu diperhatikan
14) Majas Elipsis adalah Majas yang manghilangkan suatu unsure kalimat. Contoh : Kami ke rumah nenek ( penghilangan predikat pergi )
15) Majas Inversi adalah Majas yang dinyatakan oleh pangubahan suatu kalimat. Contoh : Aku dan dia telah bertemu > Telah bertemu, aku dan dia
16) Majas Pleonasme adalah Majas yang menggunakan kata – kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti suatu kata. Contoh : Mari naik ke atas agar dapat meliahat pemandangan
17) Majas Antiklimaks adalah Majas yang menyatakan sesuatu hal berturut – turut yang makin lama makin menurun. Contoh : Para bupati, para camat, dan para kepala desa
18) Majas Klimaks adalah Majas yang menyatakan beberapa hal berturut – turut yang makin lama makin mendebat. Contoh : Semua anak – anak, remaja, dewasa, orang tua dan kakek
19) Majas Retoris adalah Majas yang berupa kalimat tanya yang jawabanya sudah diketahui. Contoh : Siapakah yang tidak ingin hidup ?
20) Majas Aliterasi adalah Majas yang memanfaatkan kata – kata yang bunyi awalnya sama. Contoh : Inikah Indahnya Impian ?
21) Majas Antanaklasis adalah Majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda. Contoh : Ibu membawa buah tangan, yaitu buah apel merah
22) Majas Repetisi adalah Majas perulangan kata – kata sebagai penegasan. Contoh : Selamat tinggal pacarku, selamat tinggal kekasihku
23) Majas Paralelisme adalah Majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, disusun dalam baris yang berbeda. Contoh : Hati ini biru Hati ini lagu Hati ini debu
24) Majas Kiasmus adalah Majas yang berisi perulangan dan sekaligus mengandung inverse. Contoh : Mereka yang kaya merasa miskin, dan yang miskin merasa kaya
25) Majas Simbolik adalah Majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan dengan benda – benda lain. Contoh : Dia menjadi lintah darat
26) Majas Antonomasia adalah Majas yang menyebutkan nama lain terhadap seseorang yang berdasarkan cirri / sifat menonjol yang dimilikinya. Contoh : Si pincang, Si jangkung, Si kribo
27) Majas Tautologi adalah Majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kata – kata yang sama artinya ( bersinonim ) untuk mempertegas arti. Contoh : Saya khawatir dan was – was dengannya

7 Apr 2013

kumpulan puisi



Yang Tersirat Belum Tersurat
Karya : Mia Pratiwi
Tuhan..
Hidupku begitu berbelit
Berbelit duka dan lara
Saat aku tersurat untuk bersamanya
Mengapa aku tak pernah tersirat dalam benak

Hampa aku rasa..
Ada tapi, tak Nampak
Inikah cobaan?

Tuhan..
Izinkan aku bahagia bersamanya
Tanpa harus ada yang merasa
Sakit atau tersakiti

Perih memang perih, sakit memang sakit
Tapi tolong katakana padanya
Bukan aku atau dia yang mengejar
Tapi, cinta yang mempersatukan..

Mungkin sudah suratanku untuk bersamanya
Dan tak pernah tersirat dalam benakku..