BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Sastra Anak
Sastra anak adalah sastra yang secara emosional
psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, dan itu pada umumnya
berangkat dari fakta yang konkret dan mudah diimajinasikan.
Berdasarkan
kutipan dari Solehan bahwa kata sastra berarti karya seni imajinatif dengan
unsur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa (Rene Wellek, 1989). Karya
seni imajinatif tersebutdapat dalam bentuk lisan ataupun tertulis. Selanjutnya,
kata anak dapat diartikan sebagai manusia kecil (KBBI, 2000:41). Kata anak
yanng dimaksud disini bukanlah anka balita ataupun anak remaja, tetapi anak
usia SD yang berumur antara 6 sampai 13 tahun.
Menurut Santoso
(2003, 8.3) sastra anak adalah karya seni yang imajinatif dengan usur
estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa baik lisa maupun tertulis yang
secara khusus dapat dipahami oleh
anak-anak dan eriidi tentang dunia ayangg akrab dengan anak-anak. Sementara
itu, menurut Sarumpaet (Dalam Santoso, 2003, 8.3), sastra anak adalah karya
satra yan dikonsumsi anak dan diurus serta dikerjakan oleh orang tua. Artinya,
sastra anak ditulis oleh orang tua yang ditujukan kepada anak dan proses
produksinya pun dikerjakan oleh orang tua.
Menurut Huck dkk (1987:5) isi kandungan yang terbatas
sesuai dengan jangkauan emosional dan psikologi anak itulah yang, antara lain,
merupakan karekteristik sastra anak. Sastra anak dapat berkisah tentang apa
saja, bahkan yang menurut ukuran dewasa tidak masuk akal. Misalnya berkisah
tentang binatang yang dapat berbicara, bertingkah laku, berpikir dan
berperasaan layaknya manusia. Imajinasi dan emosi anak dapat menerima cerita
itu secara wajar dan memang begitulah seharusnya menurut jangkauan pemahaman
anak.
Secara garis besar Lukens mengelompokkan genre sastra
anak ke dalam enam macam, yaitu realisme, fiksi formula, fantasi, sastra
tradisional, puisi dan nonfiksi dengan masing-masing mempunyai beberapa jenis
lagi. Genre drama sengaja tidak dimasukkan karena menurutnya, drama baru
lengkap setelah dipertunjukkan dan ditonton, dan bukan semata-mata urusan
bahasa-sastra (Nurgiyantoro,2005:15).
B.
Ciri Sastra Anak
Menurut
Sarumpaet (Dalam Santoso, 2003:8.4), ada 3 ciri yang membedakan antara sastra
anak dengan sastra orang dewasa. 3 Ciri itu yaitu:
1.
Unsur
pantangan, yaitu unsur yang yang secra khusus berhubungan dengan tema dan
amanat. Artinya, sastra anak pantang atau menghindari masalah-masalah yang
menyangkut tentang seks, cinta yang erotis, dendam yang menimbulkan kebencian
atau hal-hal yang bersifat negatif.
2.
Penyajian
dengan gaya secara langsung, artinya tokoh yang diperankan sifatnya hitam
putih. Maksudnya adalah setiap tokoh yang berperan hanya mempunyai satu sifat
utama, yaitu baik atau jahat.
3.
Fungsi
terapan adalah sajian cerita harus bersifat menambah pengetahuan yang bermanfaat.
C.
Jenis dan Ragam Sastra Anak
Secara garis besar Lukens mengelompokkan genre sastra
anak ke dalam enam macam, yaitu realisme, fiksi formula, fantasi, sastra
tradisional, puisi dan nonfiksi dengan masing-masing mempunyai beberapa jenis
lagi. Genre drama sengaja tidak dimasukkan karena menurutnya, drama baru
lengkap setelah dipertunjukkan dan ditonton, dan bukan semata-mata urusan
bahasa-sastra (Nurgiyantoro,2005:15). Enam genre anak tersebut adalah sebagai
berikut:
1.Realisme
Karakteristik umum cerita realisme adalah narasi fiksional yang menampilkan tokoh dengan karakter yang menarik yang dikemas dalam latar tempat dan waktu yang dimungkinkan. Ada beberapa cerita yang dapat dikategorikan ke dalam realisme, yaitu cerita realistik, realisme binatang, realisme historis dan ceritaolahraga(Nurgiyantoro,2005:15).
Karakteristik umum cerita realisme adalah narasi fiksional yang menampilkan tokoh dengan karakter yang menarik yang dikemas dalam latar tempat dan waktu yang dimungkinkan. Ada beberapa cerita yang dapat dikategorikan ke dalam realisme, yaitu cerita realistik, realisme binatang, realisme historis dan ceritaolahraga(Nurgiyantoro,2005:15).
Realisme
dalam sastra dappat dipahami bahwa cerita yang dikisahkan itu mungkinsajaa ada
dan terjadi walau tidak harus bahwa ia memang benar-benar ada dan terjadi.
Cerita mempresentasikan berbagai peristiwa, aksi, dan interaksi, yang
seolah-olah memang benar, dan penyelesaiannyapun masuk akal dan dapat
dipercaya. Realisme dibagi menjadi beberapa sub, yaitu :
a. Cerita
Realisme
Cerita
realistik (realistic stories) biasanya bercerita tentang masalah-masalah sosial
dengan menampilkan tokoh utamaprotagonis sebagai pelaku cerita. Masalah-masalah
yang dihadapi tokoh itulah yang menjadi sumber pengembangan konflik dan alur
cerita. Untuk cerita anak, cerita lebih banyak diselesaikan, tetapi harus tetap
mempertahankan logika cerita. Cerita realistik dapat membawa pembaca anak untuk
lebih memahami diri sendiri dan orang lain lewat pengembangan cerita, tokoh,
dan konflik yang dapat dipercaya.
b. Realisme
Binatang
Cerita
realisme binatang (animal realism) adalah
cerita tentang binatang yang bersifat nonfiksi. Ia adalah cerita tentang
binatang, berbicara tentang binatang, misal yang berkaitan dengan habitat, cara
dan siklus hidup dan lain-lain. Dalam hal ini fabel berbeda dengan cerita
realisme binatang karena seringkali fabel mengandung personifikasi binatang
yang memiliki konflik layaknya seperti manusia. Cerita realisme binatang meski
tanpa personifikasi bisa dibuat secara menarik karena menawarkan efek
keindahan. Misalnya,cerita tentang penjelajahan dan penemuan kebiasaan hidup,
cara bertahan hidup, cara bergaul dengan sesamanya, dan lain-lain yang
berhubungan tentang kehidupan binatang sesungguhnya.
c. Realisme
Historis
Cerita
realisme historis (historical realism) mengisahkan peristiwa yang terjadi pada
masa lampau. Hal itu menentukan latar yang juga harus ber-setting pada masa lampau lengkap dengan konsekuensi
faktual-logisnya. Cerita biasanya mengambil satu atau beberapa tokoh utama yang
digunakan sebagai acuanpengembangan alur. Contoh cerita realisme historis
misalnya Perang Diponegara, Perang
Paderi, Untung Surapati. Realisme historis dapat dikembangkan menjadi fiksi
historis yang didalamnya terdapat unsur imaginasi. Namun aspek imaginasi
tersebut haruslah dipadukan secara integral dengan fakta.
Untuk
menjadi satra anak, realisme historis haruslah dikemas dengan penuturan dengan
cara penuturan dan bahasa yang sederhana dan lazimnya dilengkapi dengan
gambar-gambar.
d. Realisme
Olahraga
Realisme Olahraga (sport stories) adalah cerita tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan dunia olahraga. Ia dapat berkaitan dengan
jenis dan tim olahraga juga dapat berkaitan dengan dan dipakai untuk menanamkan
karakter fairplay, kejujuran, kedisiplin, kesederajatan, dan lain-lain yang
penting untuk pengembangan diri. Jika dikemas dengan cara-cara menarik,
realisme olahrag tidak kalah menarik dibandingkan dengan cerita yang lain.
Karena tak sedikit anak yang mengidolakan tokoh-tokoh olahraga.
2. Fiksi
Formula
Genre ini sengaja disebut sebagai fiksi formula yang
karena memiliki pola-pola tertentu yang membedakannya dengan jenis lain. Jenis
sastra anak yang dapat dikategorikan ke dalam fiksi formula adalah cerita
misteri dan detektif, cerita romantis, dan novel serial (Nurgiyantoro, 2005:18).
Fiksi
formula memiliki pola-pola tertentu yang membedakannya dengan jenis yang lain.
Walau hal itu tidak mengurangi orisinilitas cerita yang dikreasikan oleh
penulis, keadaan itu mau tidak mau merupakan sesuatu yang bersifat membatasi. Jenis sastra anak yang merupakan
sub fiksi formula adalah :
a. Cerita
Misterius dan Detektif
Jenis
fiksi formula yang banyak dikenal orang adalah cerita misterius (mysteries) dan cerita detektif. Cerita
misterius dan detektif biasanya dikemas dalam suatu waktu, lampau, kini atau
mendatang. Cerita misteri menampilkan daya suspense
, rasa penasaran, ingin tahu, lewat peristiwa dan tindakan yang tidak
terjelaskan alias masih misterius namun pada akhirnya hal-hal tersebut pasti
diuraikan. Contoh dari cerita misterius adalah novel serial Harry Potter (JK.
Rowling), Goosebumps (RL. Stine) terjemahan keduanya dalam bahasa Indonesia
banyak dijadikan koleksi buku anak-anak.
b. Cerita
Romantis
Cerita
romantis (Romantic stories) bukan hal yang baru dalam realisme, dan kini banyak
ditulis untuk pembaca muda. Cerita ini biasanyamenampilkan kisah yang
simplisistis dan sentimentalis hubungan laki-laki permpuan, dan itu seolah-olah
merupakan satu-satunya fokus dalam kehidupan remaja. Cerita romantis berbeda
dengan romance, romansa, yang tidak masuk kategori fiksi formula. Cerita romansa
justru memperlihatkan adanya kebebasan imajinasi dan kreativitas penulis dalam
mengembangkan cerita.
c. Novel
Serial
Novel
serial dimaksudkan sebagai novel yang diterbitka secara terpisah, namun
novel-novel itu merupakan satu kesatuan unit. Novel-novel jenis ini memiliki
beberapa fokus pengorganisasian walau juga dapat bersifat tumpang tindih. Novel
serial memberi kemudahan kempada anaka yangingin secara cepat memahami dan
menikmati cerita.
3. Fantasi
Fantasi dapat dipahami sebagai cerita yang menawarkan
sesuatu yang sulit diterima. Cerita fantasi dikembangkan lewat imajinasi yang
lazim dan dapat diterima sehingga sebagai sebuah cerita dapat diterima oleh
pembaca. (Nurgiyantoro, 2005:20).
Fantasi berbeda dengan cerita
rakyat karena ceriita rakyat tidak pernah dikenali siapa penulisnya. Jenis
sastra anak yang menjadi sub fantasi adalah sebagai berikut :
a. Cerita
Fantasi
Cerita
fantasi (fantasi stories) dapat dipahami sebagai cerita yang menampilkan tokoh,
alur, atau tema yang derajat kebenarannya diragukan, baok menyangkut (hampir)
seluruh maupun sebagian cerita. Cerita Fantasisebenarnya juga menampilkan
berbagai peristiwa dan aksi yang realistik sebagaiman halnya dalamcerita
relaistik, tetapi di dalamnya juga terdapat sesuatu yang sulit diterima. Demikian
juga berbagai cerita binatang yang dapat berbicara dan berperilaku seperti
manusia, cerita yang berupa personifikasi manusia, juga dikategorikan dalam
cerita fantasi.
b. Cerita
Fantasi Tinggi
Cerita
fantasi tinggi sangat terasa konflik cerita yang berupa sisi baik dan sisi
jahatnya. Tokoh yang dimunculkan sangat menarik dan meyakinkan pembaca. Setting
yang digunakan luas dan bervariasi namun sering asing dan berbeda dengan
kehidupan kita karena berangkat dari imajinasi seseorang.
c. Fiksi
Sain
Fiksi
sain (science fiction) dapat dipahami
dalam beberapa pengertian. Robert Heinlein , seorang pengarang fiksi sains,
misalnya, mengemukakan bahwa fiksi sains adalah diksi spekulatif yang
pengarangnya mengambil postulat dari dunia nyata sebagaimana yang kita ketahui
dan mengaitkan fakta dengan hukum ala. Sebagai bagian dari cerita fantasi,
fiksi sain kadang-kadang tidak mudah dibedakan apakah ia murni fantasi atau
sain. Sebagai sebuah cerita yang hadir ke pembaca sebenarnya pembedaan tersebut
tidak terlalu penting. Namun, yang jelas, walau telah diyakini lewat
plausibillitas illmiah, fiksi sain tetap saja mengandung unsur ‘dipertanyakan
kebenarannya.
4. Sastra Tradisional
Istilah “tradisional” dalam kesastraan (traditional
literature atau folk literature) menunjukkan bahwa bentuk itu berasal dari
cerita yang telah mentradisi, tidak diketahui kapan mulainya dan siapa
penciptanya, dan kisahkan secara turun temurun secara lisan. Jenis cerita yang
dikelompokkan ke dalam genre ini adalah fabel, dongeng
rakyat, mitologi, legenda dan epos (Nurgiyantoro,2005:22).
rakyat, mitologi, legenda dan epos (Nurgiyantoro,2005:22).
Istilah
tradisionaldalam kesastraan trtadisional menunjukkkan bahwa bentuk ituberasal
dari ceritayang telah mentradisi, tidak diketahui kapan mulainya dan siapa
penciptanya dan dikisahkan secara turun-temurun melalui lisan. Didunia ini
ditemukan banyak sekali cerita rakyat,
tidak terhitung jumlahnya, dan menjadi bagian kebudayaan masyarakat pemiliknya.
Tampaknya ada banyak cerita tradisional yang bersifat ‘universal’ , misalnya
kisah Cinderella yang ternyata di negara lainnya memiliki kisah semacam itu
yang mirip. Sub sastra tradisional meliputi, :
a. Fabel
Fabel
adalah cerita binatang yang dimaksudkan sebagai personifikasi karakter manusia.
Tokoh cerita dalam fabel adalah binatang-binatang yang dapat berperan layaknya
manusia. Cerita fabel secara umum tidak panjang, di dalamnya terdapat pesan
moral yang secara nyata disampaikan di akhir cerita. Pemilihan tokoh binatang
dalam fabel dimksudkan agar pesan moral yang diasampaikan menjadi lebih konkret
disamping pembaca tidak merasa digurui. Setting pada fabel sendiri pada umumnya
mengacu pada masa lampau.
b. Dongeng
Rakyat
Dongeng
rakyat atau biasa disebut dongeng rakyat merupakan karya sastra yang
diceritakan secara lisan dan turun-temurun. Dongeng pun memuat kandungan moral
yang sangat terlihat jelas sisi baik dan buruknya. Tokoh dalm dongeng bisa
sesama manusia ataupun divariasi dengan makhluk lain seperti binatang dan
makhluk halus. Alur cerita dongeng biasanya progresif untuk lebih mudah
memahami jalannya cerita. Konflik pada dongeng tidak terlalu rumit, juga
klimaks biasa ditempatkan pada akhir kisah. Penutup dongeng berupa nada
sentimental yakni kata yang biasanya ‘Akhirnya mereka hidup bahagia..’. Dongeng
bersifat universal dimana dongeng dapat ditemukan di berbagai negara .
c. Mitos
Mitos
merupakan cerita masa lampau yang berhubungan dengan dewa-dewa maupun kehidupan
supernatural yang lain. Dimana diseyiapa negsr memiliki karakteristik mitos
yang berbeda. Mitos biasanya menampilkan cerita tentang kepahlawanan, asla-usul
alam, manusia atau bangsa yang dipahami memiliki kekuatan suci. Kebenaran mitos
sebenarnya dapat dipertanyakan namun masyarkat disekitar tempat berkembangnya
mitos tersebut tidak mempersoalkan atau bahkan meyakininya. Mitos- mitos yang
berkembang di Indonesia sebagai contoh adalah cerita tentang Dewi Sri, Nyai
Rara Kidul, dll. Alur cerita pada mitos bisa tunggal atau ganda yang dikaitkan
dengan tokoh-tokoh. Mitos berkisah tentang berbagai persoalan kehidupan yang di
dalamnya terdapat kehebatan-kehebatan tertentu yang diluar jangkauan manusia.
d. Legenda
Legenda
sering dirancukan dengan mitologi dengan mitologi. Betapapun demikian ciri khas
legenda adalah terdapat kaitan dengan kebenaran sejarah dan kurang berkaitan
dengan masalah supranatural.Kebenaran legenda dipertanyakan atau tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Legenda menampilkan tokoh-tokoh heo yang menampilkan
aksi yang sangat mengesankan. Contoh
dari legenda misalkan Rara Jonggrang, Sang Kuriang, dsb.
e. Epos
Epos
merupakan sebuah cerita panjang yang berbentuk syair (puisi) dengan
pengarangnya yang tidak pernah diketahui. Iepos menceritakan kisah kepahlawanan
seorang tokoh hero. Cerita epos sarat dengan ajaran morsl ksrena aksi-aksi
tokoh yang hebat, dan berani layakna seebagai pahlawan yang ideal baik fisik
maupun moral. Cerita Panji, Mahabarata, Ramayanalah yang menjadi contoh cerita
epos.
5. Puisi
Puisi merupakan karya sastra yang
mendayakan unsur bahasa untuk mencapai efek keindahan. Bahasa puisi tentulah
singkat dan padat, dengan sedikit kata, tetapi dapat mendialogkan sesuatu yang
lebih banyak. Keterjalinan secara harmonis diantara berbagai unsur kebahasaaan
tersebut merupakan cara memperoleh keindahan dalam berpuisi. Untuk puisi anak,
kesedrhanaan bahasa haruslah tetap menjadi perharian tersendiri dan
kadang-kadng keindahan puisi justru terletak pada kesederhanaannya. Genre puisi
anak dapat berupa puisi lirik tembang-tembang anak tradisional, lirik tembang
tradisional, atau lirik tembang ninabobo, puisi naratif,
dan puisi personal. (Nurgiyantoro,2005:27).
6. Nonfiksi
Bacaan nonfiksi yang sastra ditulis secara artistik
sehingga jika dibaca oleh anak, anak akan memperoleh pemahaman dan sekaligus
kesenangan. Ia akan membangkitkan pada diri anak perasaan keindahan yang
berwujud efek emosional dan intelektual. Bacaan nonfiksi dapat dikelompokkan ke
dalam subgenre buku informasi dan biografi (Nurgiyantoro,2005:28).
Buku
nonfiksi yang ditujukan pada anak memiliki keistimewaan tersendiri dimana
terdapat sejumlah buku bacaan nonfiksi yang ditulis dengan kadar artistik yang
tinggi, dengan memperhatikan pencapaian efekestetika lewat pemilihan
unsur-unsur stile secara tepat dan tetap sesuai dengan bahasa anak. Bacaan
nonfiksi yang sastra ditulis secara artistik sehingga dapat dibaca oleh anak,
anak akan memperolehpemahaman dan kesenangan sekaligus. Buku nonfiksi
dikelompokkan menjadi dua sub, yakni:
a. Buku
informasi
Buku
informasi memuat informasi, fakta, konsep, hubungan antar fakta dan konsep dan
lain-lain yang mampu menstimulan keingintahuan anak atau pembaca. Dari aspek
bahasa buku nonfiksi tetap memperhatikan bahas figurati, diksi, citraan dan
stile yang dihadirkan. Buku informasi mencakup tema dengan permasalahan
sedeerhana hingga kompleks. Dsn ysng cocok untuk anak tentu saja buku dengan
tema yanag sedrhana.
b. Biografi,
Jika
buku-buku informasional biasanya memiliki standart yang hampir sama, biografi
lain penulis lain pula bentuk dan isinya. Biografi adalah buku yang berisi
riwayat hidup seseorang , tentu saja tidak senua aspek kehidupan dan peristiwa
dikisahkan, melainkan dibatasi pada hal-hal tertentu yang dipandang perlundan
menarik untukndiketahui orangnlain. Selain untuk menguraikan kisah hidup
seseorang biografi juga berfungsi untuk mengurai psndangan sikap dari tokoh
yang ditulis. Saat ini banyak biografi tokoh-tokoh terkenal yang ditulis
kembali berbentuk biografi sebagai bacaan anak-anak sehingga isi dan bahasanya
lebih sederhana bahkan juga disertai gambar-gambar untuk ilustrasi agar lebih
menarik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar