KLINIK DEKAT MASJID KELURAHAN CISAUK
Sekitar
jam sepuluh malam aku dan bapakku melewati masjid. Jalanan yang tepat berada
persis di depan klinik di kelurahan cisauk terbaca jelas papan tulisan yang
berisikan bacaan tutup/ close, karena merasa dalam keadaan gawat darurat dan
bapakku mengenal dokter yang praktek di klinik yang juga rumah seorang dokter
itu, bapakku pun langsung membuka pagar dan mengucap salam seraya minta tolong.
Bapak-bapak
yang baru pulang dari masjid pun lalu lalalng setelah kegiatan pengajian.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya terdengar suara kunci pintu yg terbuka
bapak pun langsung menghadap dokter dan mengutarakan kepentingannya untuk
memeriksa aku yang sedang duduk lemas di bangku antrian pasien.
Ibu
dokter yang mengenal bapak dan aku dari kecil pun mau menolongku karena beliau
memang sudah tidak asing denganku dan beliaulah yang dulu membantu persalinan
ibuku maka dari itulah beliau langsung menanganiku sembari memulai
perbincangan.
"Sebenarnya
kliniknya sudah tutup, namun saya kenal dekat dengan kalian saya akan mencoba
memeriksa kamu ". Begitu kata bu dokter, sambil memeriksa dan
memberitahukan keluhan-keluhan yang aku sampaikan. Dan setelah memeriksakan aku,
ibu dokterpun memanggil bapakku untuk mengingatkan minum obat dan memberitahu
agar selalu menjaga kesehatan.
Malam
ini terlihat sepi pasien selain memang karena sudah malam dan pasien pun sudah
selesai menjalani pengobatannya. Jalanan sudah sepi hanya anak-anak muda yang
sedang nongkrong di pinggir jalan dan bapak-bapak yang selesai menghadiri
pengajian. Angin malam pun terasa menyentuhku saat aku akan pulang setelah
berobat semakin pusing dan lemas badanku terasanya.
Sekitar
jam setengah sebelas akupun sampai di rumah dengan membawa obat dan perasaan
sedikit lega karena sudah diperiksa. Biasanya klinik itu selalu ramai pasien,
dari pagi hingga malam dan pada sore harilah biasanya sedang banyak antrian
pasien selain jaraknya dekat, terjangkau dan terpercaya pelayanannya pun sangat
ramah.
Selain
ramai pasien keadaan pun terasa gaduh, karena suara-suara batuk dari pasien,
obrolan dari pengantar pasien juga suara lalu lalang kendaraan yang lewat depan
klinik tersebut. Sampai tidak terdengar suara asisten dokter yang memanggil
antrian pasien belum lagi suara tangisan anak-anak dan suara spiker masjid menjelang
magrib karena waktu itu jam menunjukan sekitar setengah enam sore.
Di
samping klinik juga terdapat warung sembako ataupun sekedar jajanan anak-anak
dan rokok. Malam itu ada dua anak remaja sedang berbincang untuk membeli
sesuatu di warung itu dengan temannya. Sudah tidak asing lagi kalau anak remaja
sekarang membeli rokok. Dan sebelumnya saat aku dan bapakku baru sampai depan
klinik seorang bapak terlihat memandangi kami yang berdiri di depan pager
klinik yang bertuliskan tutup.
Namun
tidak memberitahukan ataupun menegur sekedar memberi informasi, hanya lewat dan
memandangi saja. Sempat pesismis takut dokternya tidak ada, karena sebelumnya
aku sudah pergi ke dokter lain yang lebih dekat dengan rumah bersama mamahku
sesudah magrib sekitar jam tujuh sebelum isya.
Tadinya
aku tidak ingin pergi ke klinik karena malas jalan kaki, akhirnya di antar
bapakku dan pergi ke klinik. Ternyata aku jadi pasien terakhir karena memang
kliniknya tidak beroperasi selama 24jam hanya saja masih menangani pasien yang
memang membutuhkan pertolongan dan dalam keadaan darurat, karena tidak mungkin
juga menolak pasien yang sekarat bisa-bisa di hukumi warga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar